Coretan-coretan Apa Adanya

Tentang Memiliki


Kenangan adalah kisah yang abadi. Berteman kehilangan dan penerimaan, kau tetap harus melanjutkan kehidupan. Kehilangan membuatmu meresapi makna kepemilikan. Ketika melepas menjadi sebuah ancaman, kau genggam dengan sangat erat bahkan terlalu kuat hingga kau pun terluka begitu semua harus terlepas. Peganglah, bukan dengan ambisi untuk terus memiliki. Miliki dengan sewajarnya. Karena merasa memiliki sejatinya akan membuatmu terlalu mengekang. Kenangan tentang memiliki bisa saja menjadi kenangan yang pahit jika dirimu terlalu memaksakan kehendakmu sendiri untuk memiliki. Memiliki adalah memahami jika apa yang berusaha kita genggang nantinya harus kita lepaskan. Bukan menuduh diri sendiri untuk terus bisa mengikat apa yang kita sebut kita miliki.

Iklan

Pilihan


Malam terus berlalu. Tatapan sore itu terus membayang dalam imajinasi yang liar. Hanya berjuta seandainya yang sekarang terus terngiang. Sayang sekali waktu tak bisa dikembalikan. Ketika rasa tak bisa dirasa lagi. Beku. Ketika perpisahan menjadi pilihan yang sulit diputuskan. Selalu dengan pertanyaan yang sama. Kenapa harus terjadi?. Ketika penyesalan menjadi kenangan abadi. Senyuman seketika berbalik menjadi kesedihan. Jika dihadapkan pada pilihan, haruskah tidak memilih?. Tak selamanya pilihanmu salah. Tak selamanya pula pilihanmu benar. Tapi pilihan sudah diputuskan, bagaimanapun harus tetap dijalani. Kadang perkara perasaan tidak bisa jadi bahan untuk dipilih. Tapi persimpangan selalu memaksa agar kita memutus satu diantara dua yang ada. Pada akhirnya sebuah keputusan menjadi sulit untuk dilalui. Melawan rasa, mengalah pada kecewa. Tak mampu juga mengenang senyum yang dulu begitu memikat. Ada batas yang sudah dilawan, tak bisa jadi sebuah pengampunan. Baiklah, pilihan harus tetap ada di tangan.

(Masih) Rindu


Masih tentang hal yang sama. Selalu ada alasan untuk mengulas sesuatu yang mungkin bagi kalian tidaklah berarti. Jauh disana, ada jiwa yang sedang menungguku untuk bertemu. Masih tentang hal yang sama, rindu. Pertemuan yang singkat, berakhir pada pelabuhan rasa yang terus mendera. Perpisahan yang terlalu cepat, meniadakan harapan tentang kisah sepanjang masa. Terekam begitu jelas cerita cerita bagai kisah cinta anak SMA. Ah, aku ingin tertawa mengingatnya. Bisa dibilang kita sudah terlalu tua untuk mengalaminya. Pertemuan yang tak terencana, perpisahan yang tak terduga. Karena aku tau rindu tak akan pernah kenal waktu. Dalam doa sepanjang malam, kugenggam erat rinduku agar tersampaikan. Aku hadirkan selalu rinduku agar kita bisa berjumpa pada akhir yang hakiki. Bukan, bukan soal waktu yang sering terasa tak memihak. Aku percaya, waktu selalu mempunyai saat yang tepat untuk setiap kejadian yang kita alami. Pada setiap air mata, akan selalu ada rindu tercurah. Pada setiap tawa, akan selalu ada rindu yang tak cukup digambar dengan kata. Ada haru yang selalu terselip ketika aku mengingatmu dalam rindu. Jauh disana, kukirim rindu hanya padamu. Dari awal yang menanti akhir. Dari rinduku yang bermuara untuk bertemu rindumu. Jauh disana, kamu pasti akan mengenali rinduku


Saya suka dengan kata,mungkin sejak mengenal pelajaran bahasa indonesia di sekolah menengah pertama. Sejak ditugaskan menulis buku harian, lama lama saya pun ketagihan. Apalagi sejak berkenalan dengan puisi. Entah kenapa saya menjadi suka bermain kata. Saya pun mulai suka menulis beberapa bait kata yang saya sebut puisi, asal tulis saja.Saya berusaha menulis sebagus mungkin, tulisan yang bagus menurut anak smp waktu itu. Sampai akhirnya memberanikan diri menyumbangkan puisi untuk mading sekolah. Orang lain membacanya, tapi tidak tau siapa yang menulisnya. Kebiasaan menulis puisi untuk mading sekolah berlangsung hingga sekolah menengah atas. Mungkin orang lain memang tidak mengenal siapa saya. Memang saya saat itu lebih suka dibalik layar. Mengikuti ekstrakulikuler jurnalistik sekolah, saya lumayan rutin menulis puisi untuk mading sekolah. Saya suka menulis, tapi saya tidak terlalu suka berbicara. Memasuki jenjang perguruan tinggi minat saya tetap pada tulis menulis. Saya pun mengikuti semacam perkumpulan pecinta jurnalistik level fakultas. Ah, banyak pengalaman yang saya dapat disitu. Saya menjadi tau dan lebih belajar lagi jika menulis juga memiliki kaidah. Saya tetap menulis puisi, tapi sebatas koleksi pribadi atau saya curahkan lewat blog seadanya. Saya belajar menulis artikel, meskipun masih amatiran. Menjadi editor tulisan untik buletin juga saya pelajari. Menulis tetap tak semudah yang saya bayangkan. Hingga akhirnya saya temukan aliran tulisan yang saya sukai. Kata kata bebas dan bersayap. Menulis kata kata bersayap memang tidak mudah. Jika ada momen atau waktu yang tepat, saya akan menulisnya. Kadang semacam menunggu inspirasi. Hingga sekarang pun saya tetap belajar menulis. Menulis dengan hati. Menulis dengan pandangan yang baik. Jika dihadapkan pada pilihan menulis atau berbicara,saya pasti dengan yakin memilih menulis. Jika berbicara bisa menyakiti, menulis bisa mengobati. Setidaknya begitu yang saya rasa sekarang. 

Cermin diri


Lihat lagi bagaimana dirimu sebelum kamu berusaha susah payah melihat celah kekurangan orang lain. Menilai memang perkara mudah, menilik diri lebih dalam bukan hal yang mudah. Celah akan selalu ada ketika kamu berusaha mencarinya. Dalam setiap satu kelebihan mungkin saja ada seribu keburukan. Dalam setiap seribu kebaikan bisa saja terselip satu keburukan. Tak ada yg bisa menilai. Jika kamu merasa berhak menilainya, emosi akan menguasaimu. Apalagi perasaan, sesuatu yang sangat mudah berubah. Jangan campur adukkan rasa lelahmu dengan nilai tak baik yang kamu tujukan pada seseorang. Setiap diri memang butuh dilihat dan dinilai, tapi jangan biarkan ego sesaatmu menyeret kebijaksanaan yang penuh sabar. Sekarang, luangkan sejenak waktumu untuk lebih dalam meresapi dirimu sendiri. Sebelum memutuskan sesuatu tentang orang lain, pertimbangkan ego mu agar berpikir lebih bijak. Bukankah kita sama sama memiliki kurang dan lebih yang tak akan pernah sama?. 

Penantian


Disudut kota yang terlaluu gelap untuk kau lihat, disitu aku selalu menunggumu. Setiap malam, setiap waktu, sembari selalu melihat ke stasiun tua itu, berharap kau datang dengan senyum manismu. Di sudut kota yang terlalu usang untuk kau kenang, aku senantiasa membayangkan cerita cerita lalu tentang kita yang seolah tak memiliki perhentian. Mataku sudah sangat lelah menyebar pandangan mencarimu. Kakiku seolah tak bertulang karena setiap hari harus menempuh perjalanan berusaha menemukanmu. Pada setiap pagi yang begitu dingin, aku menemukanmu dalam imanjinasi. Kau mencium hangat keningku sembari membangunkanku dengan kata-kata manja. Aku terbangun, tapi tak melihatmu secara utuh. Pada setiap siang yang terik, aku selalu sayup mendengar ocehanmu agar aku tak keluar rumah terlebih dahulu sebelum panas benar benar lenyap. Aku mengiyakan ocehanmu itu, tapi sekejap aku berlari ke arah suaramu, kau tak ada. Pada setiap malam yang indah, aku selalu menerima tawaranmu untuk kau buatkan secangkir teh hangat lalu kita bercengkrama sambil memandang purnama. Aku menunggu segelas teh itu, tapi tak kunjung datang ke mejaku. Kau tak di dapur itu. Di sudut mata yang terlalu lelah untuk kau tatap, terjuntai beribu harapan kelak kau dapat kutemukan lagi dalam penantianku. Berjuta hari aku berusaha menantang rindu, membunuh waktu. Langkahku semakin tak terarah. Tanganku tak memiliki daya untuk menengadah berharap kau ada. Aku patah, hilang asa. Hingga aku terlalu lama menanti, tapi aku berusaha tak menyerah. Hingga waktu menjadi pengingat sejati, jika kau tak akan pernah kembali.

Waktu


Waktumu sudah ditentukan. Waktumu harus harus lahir ke dunia. Waktumu bersekolah,waktumu bekerja. Waktumu memiliki waktunya masing-masing. Waktu menikah, waktu diberi titipan berupa anak waktu memiliki cucu, bahkan waktu yang paling akhir di dunia, mati. Tak usah gelisah melihat orang lain sedang menikmati waktunya, mereka memang sudah tiba pada waktunya. Mungkin disatu waktu kamu mendahului mereka, mungkin saja diwaktu lain mereka seolah lebih cepat daripada dirimu. Abaikan mereka yang kurang bisa menafsirkan dan memahami jika setiap dari kita memiliki waktunya masing-masing. Sang Sutradara terbaik sepanjang masa telah merancang waktu kita sedemikian rupa, dan selalu sempurna. Kita tak pernah bisa mendahului waktu kita, ataupun melambatkannya. Jika sudah sampai pada waktu tertentu, terjadilah. Kita tak mungkin bisa menolak, mengelak, atau memaksa agar waktu tersebut segera tiba. Bersyukur atas setiap waktu yang tiba, pasti lebih bermakna daripada mencaci waktu yang sedang kita hadapi. Waktumu tidak akan terlalu lama atau terlalu terburu buru. Waktumu akan selalu tepat disetiap tahunnya, bulan, minggu, hari, jam, menit, bahkan detik.  Percayalah, waktumu pasti selalu tepat waktu.